Selamat Datang di Website resmi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Timur

Anyaman Sukini Dibantu Jalin Matra

Trenggalek - Keterampilan membuat anyaman memang tak dimiliki semua orang. Bagi yang berkeahlian membuatnya, hal ini bisa dijadikan jalan untuk mencari nafkah. Hal ini yang dilakukan oleh Sukini (56th). Anyaman yang dibuatnya antara lain berupa tikar dan caping bisa menjadi sumber pencahariannya sehari-hari.

 

Sukini adalah Kepala Rumah Tangga Perempuan (KRTP) yang menjadi Rumah Tangga Sasaran (RTS) program Jalin Matra Penanggulangan Feminisasi Perempuan. Ibu yang bertempat tinggal di Dusun Gambar RT 13 RW 08 Desa Bogoran Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek ini merupakan tulang punggung dari keluarganya.

Sukini mempunyai anak perempuan yang mengidap keterbelakangan mental, begitupun suami anaknya (menantu), sehingga membutuhkan perhatian khusus. Dengan kondisi seperti ini  sang cucu pun menjadi tanggung jawab Sukini. Ia mengurus segala keperluan keluarganya, mulai mencari nafkah, memasak, hingga mengurus rumah.

Dalam kesehariannya mencari nafkah, Sukini menjalankan usaha warung sembako kecil dan berjualan keliling. Di warung sembakonya, Sukini tidak memiliki banyak barang yang dijual, hanya menyediakan beberapa kebutuhan rumah tangga sehari -hari. Letak warung sembako Sukini ini berada di dalam rumah berdekatan dengan dapur.

Modal awal yang diperoleh Sukini berasal dari saudaranya, ia pun diwajibkan membagi laba yang di dapat dengan saudaranya. Padahal hasil dari warung sembako sangat jauh dari kata cukup karena banyak yang menjadi tanggungannya.

Di sela – sela waktu luangnya berjualan sembako dan jualan keliling ke rumah – rumah warg, Sukini membuat anyaman caping dan tikar.  Bahan baku membuat anyaman antara lain dari bambu, daun pisang dan daun pandan.

Bahan baku anyaman di beli dari tetangganya, karena tidak mempunyai bahan baku sendiri. Ia bisa menyelesaikanya anyaman dalam waktu tiga hari. Namun karena banyak yang harus diurus, sehingga hasil anyaman kadang bisa di selesaikan dalam waktu 1 minggu.

Anyaman itu kemudian dijual di rumah, di pasar dan dijual keliling. Satu buah anyaman tikardihargainya Rp 20.000. Dari jualan itu dia hanya mendapat untung sekitar Rp 5000, sedangkan capingnya hanya dihargai Rp 15.000 dengan untung Rp 3000- Rp 4000. “ Dengan untung yang segitu sebenarnya tidak sebanding dengan lelah saat membuat setiap hari,” ujar Sukini.

Karena itu melalui bantuan jalin matra penanggulangan feminisasi perempuan ( PFK ), Sukini berharap bisa menjadi modal yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha yang sudah ia jalani. “ Saya berharap dengan punya modal sendiri, saya tidak perlu meminjam modal lagi,” harapnya. (Rina/red)

 
Copyright © 2009 - 2018DPMD Provinsi Jawa Timur All Rights Reserved.