Selamat Datang di Website resmi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Timur

Jalin Matra Tingkatkan Produksi Tempe Sarmi

Bojonegoro - Pembuat tempe tradisional masih banyak dilakukan masyarakat Indonesia. Tempe seperti ini diproduksi secara sederhana, hanya menggunakan cara-cara pengolahan yang mudah namun harus pas agar diperoleh rasa yang enak.

Sarmi (56th) salah satunya, pembuat tempe tradisional ini merupakan Kepala Rumah Tangga Perempuan (KRTP) sejak 6 tahun lalu. Sarmi mengolah tempe kedelai menggunakan cara tradisional dibantu keempat anaknya.

“Bikin tempe itu nggak sulit kok, cuma butuh ketekunan sama kemauan. Mengolahnya harus benar agar rasanya enak,” kata Sarmi.

Menurut Sarmi, tempe yang enak adalah yang memakai pembungkus alami untuk membungkus tempe karena rasa khas daun pisang yang menggulungnya.

Setelah tempe siap jadi, Sarmi menjual tempenya sendiri di pasar. Bila masih ada sisanya, ia pun berkeliling desa agar tempe habis terjual. Ketika tempe habis, Sarmi pulang dan membawa kedelai yang sudah dibelinya dari pasar untuk di buat tempe esoknya. Aktifitas ini sudah ia jalani selama lebih dari 25 tahun lamanya. Penghasilan dari penjualan tempe rata-rata Rp 25-30 ribu per hari.

Penghasilan yang tak cukup banyak itu, salah satunya karena terbatasnya modal dan cara sederhana yang ia pakai. Karena itulah Program Jalin Matra Penanggulangan Feminisme Kemiskinan (PFK) Pemprov Jatim memberi bantuan Sarmi agar produksi tempenya meningkat, dan diharapkan ini berdampak meningkatnya penghasilan.

Bantuan senilai Rp 2,5 juta tersebut, Sarmi ingin menggunakannya untuk membeli  Kedelai dan barang kebutuhan lainnya. Bahan baku tempe ini dirasa sangat membantu dalam produksi tempe setiap harinya, karena selama ini permintaan yang tinggi tidak dapat dimaksimalkan olehnya.

Selain sebagai pembuat tempe, Warga Desa Sumberharjo Kecamatan Sumberrejo Bojonegoro ini juga memiliki sepetak sawah yang kira-kira jika panen padi hanya menghasilkan 1 ton gabah basah. Ia mengolah sawah sendiri dibantu sang anak untuk tambahan penghasilan.

“ Namun dari sawah hasilnya baru bisa dirasakan dalam waktu tiga bulan sekali. Itupun jika tidak gagal panen. Tapi semuanya kami jalani dan selalu bersyukur,” ucapnya.(burhanimujib,red)

 
Copyright © 2009 - 2018DPMD Provinsi Jawa Timur All Rights Reserved.