Selamat Datang di Website resmi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Timur

Salon Intan Salon Jalin Matra

Jombang - Jangan dibayangkan Salon Intan akan seperti salon-salon di kota pada umumnya. Memiliki peralatan lengkap, tempat yang bagus, hingga ruangan yang dingin karena dilengkapi AC. Salon Intan hanya menempati sebuah rumah yang menjadi satu sebagai tempat tinggal.

 

 

Salon Intan adalah usaha dari seorang Kepala Rumah Tangga Perempuan (KRTP) bernama Hartutik (45th). Dilihat dari luar rumah, tidak terlihat bila rumah Hartutik juga digunakan untuk membuka jasa salon rambut. Maklum, banner penanda ada jasa salon miliknya sudah rusak dan ia tidak mampu menggantinya, sehingga ia berpikir untuk dihilangkan saja.

Usaha salon ia buka di ruang tamu rumahnya yang kecil. Hanya ada satu meja rias dan kursi serta alat potong rambut dan hair dryer yang sudah usang. Perempuan yang tinggal di Dusun Semanding, Desa Sumber Mulyo Jogoroto, Jombang ini memiliki keahlian menata rambut dari pengalamannya bekerja di sebuah salon sejak ia belum menikah.

"Saudara perempuan saya di Bojonegoro mempunyai salon, dari situ saya dulu belajar memotong rambut, setelah menikah dan pindah ke Jombang saya memulai usaha salon potong rambut  pria wanita ini," ujar perempuan kelahiran  Bojonegoro, 22 Mei 1973 ini.

Hartatik sudah 11 tahun saya menjalankan usaha ini. Ia mengaku tidak bisa memasang tarif tinggi seperti di kota, karena khawatir tidak laku. "Di sini kalau potong rambut  tarifnya hanya Rp7000," kata perempuan dengan 1 anak perempuan yang masih duduk di kelas 3 MAN 3 Jombang ini.

Namun belum ada satu tahun usahanya dibuka, suami Hartutik meninggal karena sakit. Salon Intan ini buka  setiap hari jam 09.00 – 19.00.

Selain potong rambut, Hartutik juga melayani cream bath, keriting rambut, rebonding, pewarnaan rambut dan rias karnaval untuk anak-anak. Namun saat ini Hartutik hanya menerima potong rambut dan rias karnaval anak-anak saja, sedangkan jasa pewarnaan, keriting  dan rebonding tidak ia layani karena mahalnya obat pewarna rambut.

"Pelanggan saya kebanyakan tetangga, mereka mau jasa yang murah saja, lagi pula saya juga merasa sungkan dengan pelanggan saya kalau keramasnya masih harus saya bawa ke kamar mandi karena saya belum memiliki bak untuk tempat cuci rambut," ucapnya.

Dalam sehari penghasilan Sri Hartutik rata-rata mendapat Rp 80.000 – Rp 100.000 jika salonnya sedang sepi. Tarif  listrik yang mahal menjadikan penghasilannya berkurang, karena listrik Pra bayar (pulsa) miliknya perlu biaya banyak untuk beli token, sebelum satu minggu ia sudah mengisi token listrik Rp 50.000, ini menambah berat bebannya.

Melihat terhambatnya usaha jasa salon Hartatik, Program Jalin Matra Penanggukangan Feminisme Kemiskinan (PFK) membantunya. Salonnya pun dibantu Jalin Matra PFK berupa perlengkapan tempat keramas, serta alat pelurus rambut. "Alhamdulillah karena Cathok yang saya punya sudah tidak begitu panas lagi kalau dipakai, sehingga hasilnya tidak bisa maksimal," katanya.(hamzah/red)

 
Copyright © 2009 - 2018DPMD Provinsi Jawa Timur All Rights Reserved.